Ketika Aib Dijadikan Alat Meminta Uang: Kenapa Ini Bisa Menjadi Masalah Pidana?

Ada perkara yang dari luar ter­li­hat seper­ti masalah prib­a­di.
Seo­lah-olah hanya uru­san kelu­ar­ga, hubun­gan prib­a­di, atau per­soalan rumah tang­ga.

Namun dalam prak­tik hukum, tidak semua per­soalan prib­a­di berhen­ti seba­gai uru­san prib­a­di.

Apa­bi­la sese­o­rang meng­gu­nakan chat, foto, video, reka­man, atau infor­masi prib­a­di orang lain untuk menekan, menakut-naku­ti, lalu mem­inta uang atau barang, maka per­soalan­nya sudah bisa bergeser men­ja­di dugaan tin­dak pidana.

Intinya seder­hana:

tidak seo­rang pun boleh meng­gu­nakan aib, raha­sia, atau infor­masi prib­a­di orang lain seba­gai alat untuk mem­inta uang.

Apala­gi jika per­mintaan itu dis­er­tai tekanan seper­ti:

“Kalau tidak bayar, saya sebarkan.”
“Kalau tidak diberikan, kelu­ar­ga akan tahu.”
“Kalau tidak dipenuhi, uru­san ini akan saya buka.”

Dalam keadaan seper­ti itu, per­soalan bukan lagi sekadar benar atau tidaknya isi infor­masi terse­but. Per­soalan hukum­nya adalah: apakah infor­masi prib­a­di itu digu­nakan untuk memak­sa sese­o­rang meny­er­ahkan uang, barang, atau keun­tun­gan ter­ten­tu.


Masalah Utamanya Bukan Aibnya, Tapi Cara Menggunakannya

Dalam beber­a­pa perkara, kor­ban ser­ing bin­gung harus men­je­laskan dari mana.

Mere­ka takut diang­gap bersalah.
Takut diang­gap pun­ya aib.
Takut lapo­ran­nya jus­tru diputar men­ja­di per­soalan moral.
Takut kelu­ar­ga semakin tahu.
Takut namanya semakin rusak.

Pada­hal dalam kaca­ma­ta hukum pidana, fokus­nya tidak selalu pada apakah tuduhan itu benar atau tidak

.

Fokus yang lebih pent­ing adalah:

  1. apakah ada infor­masi prib­a­di yang dikua­sai oleh pihak lain;
  2. apakah infor­masi itu digu­nakan untuk menekan kor­ban;
  3. apakah ada per­mintaan uang atau barang;
  4. apakah kor­ban mem­ba­yar kare­na takut infor­masi itu dise­barkan;
  5. apakah sete­lah per­mintaan tidak dipenuhi, infor­masi itu benar-benar dise­barkan.

Jika rangka­ian ini ada, maka peri­s­ti­wa terse­but patut dil­i­hat seba­gai dugaan pen­gan­ca­man dan/atau pemerasan, bukan sekadar “uru­san kelu­ar­ga”.

Bahkan, apa­bi­la infor­masi terse­but benar sekalipun, sese­o­rang tetap tidak otoma­tis boleh meng­gu­nakan­nya seba­gai alat untuk mem­inta uang. Kebe­naran suatu infor­masi tidak meng­ha­pus kemu­ngk­i­nan adanya per­bu­atan pidana jika infor­masi itu dipakai seba­gai alat tekanan secara melawan hukum.


Contoh Sederhana: “Bayar, Kalau Tidak Saya Sebarkan”

Bayangkan sese­o­rang meny­im­pan tangka­pan layar per­caka­pan prib­a­di milik orang lain.

Per­caka­pan itu kemu­di­an dis­im­pan lama.
Lalu suatu saat digu­nakan untuk mem­inta uang.
Kor­ban merasa takut, lalu meny­er­ahkan uang atau barang.
Sete­lah itu, per­mintaan muncul lagi den­gan jum­lah lebih besar.
Keti­ka tidak dipenuhi, infor­masi terse­but dise­barkan ke grup kelu­ar­ga.

Dalam situ­asi seper­ti ini, per­tanyaan hukum­nya bukan lagi sekadar:

“Apakah chat itu benar?”

Tetapi:

“Apakah chat itu digu­nakan untuk menekan kor­ban agar mem­ba­yar?”
“Apakah kor­ban meny­er­ahkan uang kare­na takut?”
“Apakah ada hubun­gan antara anca­man, per­mintaan uang, dan penye­baran infor­masi?”
“Apakah per­bu­atan itu dilakukan melalui What­sApp, screen­shot, reka­man layar, atau grup kelu­ar­ga?”

Jika jawa­ban­nya men­garah ke “ya”, maka kor­ban memi­li­ki dasar untuk mem­inta per­lin­dun­gan hukum.

Dalam perkara yang men­ja­di dasar pem­ba­hasan ini, ter­da­p­at dugaan adanya peng­gu­naan materi prib­a­di seba­gai alat tekanan, adanya per­mintaan uang/barang, adanya peny­er­a­han uang/barang, dan adanya penye­baran infor­masi di grup kelu­ar­ga sete­lah per­mintaan ter­ten­tu tidak dipenuhi.


Kalau Dilakukan Lewat WhatsApp, Apakah Bisa Masuk UU ITE?

Bisa.

Saat ini banyak tekanan, anca­man, dan penye­baran infor­masi prib­a­di dilakukan bukan secara lang­sung, tetapi melalui media elek­tron­ik.

Mis­al­nya:

What­sApp prib­a­di.
Grup kelu­ar­ga.
Screen­shot.
Reka­man layar.
Video scroll chat.
Pesan suara.
Foto atau doku­men elek­tron­ik.

Kare­na itu, apa­bi­la anca­man atau penye­baran dilakukan melalui sarana elek­tron­ik, maka selain dika­ji berdasarkan KUHP, peri­s­ti­wa terse­but juga dap­at dika­ji dari sisi UU ITE.

Namun per­lu dipa­ha­mi, tidak semua screen­shot otoma­tis kuat seba­gai buk­ti. Screen­shot memang pent­ing, tetapi akan lebih baik jika didukung oleh buk­ti asli.

Mis­al­nya:

chat asli masih ada di HP;
nomor pen­gir­im jelas;
tang­gal dan jam komu­nikasi ter­li­hat;
ada buk­ti trans­fer;
ada sak­si yang mener­i­ma pesan di grup;
ada ekspor chat What­sApp;
ada reka­man suara atau buk­ti pen­dukung lain.

Semakin rapi buk­ti dis­im­pan, semakin mudah penyidik mema­ha­mi peri­s­ti­wanya.


Korban Jangan Terjebak Membela Isu Moral

Dalam kasus seper­ti ini, kor­ban ser­ing terseret untuk mem­bela diri dari isu moral.

Akhirnya lapo­ran men­ja­di mele­bar.

Yang diba­has jus­tru hubun­gan prib­a­di.
Yang diba­has jus­tru aib kelu­ar­ga.
Yang diba­has jus­tru benar atau tidaknya tuduhan.
Pada­hal inti pidananya bisa lebih seder­hana.

Fram­ing yang lebih tepat adalah:

dugaan per­mintaan uang atau barang den­gan anca­man mem­bu­ka raha­sia prib­a­di melalui media elek­tron­ik.

Atau:

dugaan pen­gan­ca­man dan/atau pemerasan den­gan meng­gu­nakan infor­masi prib­a­di seba­gai alat tekanan.

Kali­mat ini lebih jelas, lebih netral, dan lebih mudah dipa­ha­mi oleh penyidik.

Kor­ban tidak per­lu berlebi­han men­je­laskan aib­nya.
Kor­ban cukup men­je­laskan rangka­ian per­bu­atan: ada materi prib­a­di, ada tekanan, ada per­mintaan uang, ada pem­ba­yaran atau peny­er­a­han barang, dan ada penye­baran atau anca­man penye­baran.


Siapa yang Sebaiknya Melapor?

Dalam perkara seper­ti ini, pihak yang dim­inta uang secara lang­sung sebaiknya tampil seba­gai kor­ban atau seti­daknya seba­gai sak­si kor­ban.

Jika ada satu pihak yang dim­inta uang tetapi tidak mem­ba­yar, ia tetap bisa men­ja­di kor­ban pen­gan­ca­man.

Namun apa­bi­la ada pihak lain yang benar-benar meny­er­ahkan uang atau barang, posisi pihak terse­but san­gat pent­ing. Sebab buk­ti pem­ba­yaran, buk­ti trans­fer, atau buk­ti peny­er­a­han barang dap­at mem­perku­at kon­struk­si bah­wa tekanan itu bukan sekadar uca­pan, tetapi sudah menim­bulkan aki­bat nya­ta.

Den­gan demikian, lapo­ran akan lebih kuat apa­bi­la kor­ban yang men­gala­mi tekanan, kor­ban yang dim­inta uang, dan kor­ban yang meny­er­ahkan uang/barang sal­ing men­dukung dalam keteran­gan.

Bukan untuk sal­ing mem­bu­ka aib.
Tetapi untuk menun­jukkan pola per­bu­atan yang diduga dilakukan oleh pelaku.


Bukti yang Perlu Disiapkan

Sebelum mela­por, kor­ban sebaiknya tidak hanya mem­bawa ceri­ta.

Kor­ban per­lu menyi­ap­kan buk­ti secara rapi, antara lain:

  • screen­shot chat per­mintaan uang;
  • screen­shot chat yang berisi anca­man atau tekanan;
  • buk­ti trans­fer;
  • buk­ti pem­be­lian atau peny­er­a­han barang;
  • screen­shot post­ing di grup kelu­ar­ga;
  • daf­tar sak­si yang mener­i­ma atau meli­hat post­ing terse­but;
  • HP yang masih meny­im­pan chat asli;
  • ekspor chat What­sApp;
  • reka­man suara atau video, jika ada;
  • kro­nolo­gi ter­tulis yang memu­at tang­gal, jam, pihak yang menghubun­gi, isi per­mintaan, jum­lah uang/barang, dan aki­bat yang diala­mi kor­ban.

Kor­ban juga sebaiknya tidak mem­balas den­gan emosi, anca­man balik, atau kata-kata yang dap­at dipelin­tir.

Jika per­lu berko­mu­nikasi, lakukan secara terukur. Lebih aman lagi apa­bi­la komu­nikasi dilakukan melalui kuasa hukum.


Penutup: Jangan Takut Mencari Bantuan Hukum

Kor­ban dalam perkara seper­ti ini ser­ing merasa sendiri­an.

Bukan hanya kare­na uangnya dim­inta.
Tetapi kare­na kehor­matan, nama baik, kelu­ar­ga, dan kete­nan­gan hidup­nya ikut ter­gang­gu.

Kare­na itu, langkah hukum harus dis­usun den­gan hati-hati.

Jan­gan sam­pai lapo­ran pidana jus­tru dipersep­sikan seba­gai kon­flik kelu­ar­ga biasa. Jan­gan sam­pai inti perkara bergeser men­ja­di perde­batan moral. Yang harus diton­jolkan adalah dugaan peng­gu­naan infor­masi prib­a­di seba­gai alat tekanan untuk mem­inta uang atau barang.

Apa­bi­la Anda atau kelu­ar­ga Anda men­gala­mi tekanan seper­ti ini, segera sim­pan buk­ti, susun kro­nolo­gi, hin­dari komu­nikasi emo­sion­al, dan cari pen­damp­ing hukum yang tepat.

Bukan untuk mem­perkeruh keadaan.
Tetapi untuk memas­tikan bah­wa masalah prib­a­di tidak dijadikan alat untuk memeras, menekan, atau meng­han­curkan hidup sese­o­rang.

Kan­tor Advokat Irfan Dis­nizar dan Rekan dap­at mem­ban­tu menelaah posisi hukum, mer­apikan kro­nolo­gi, meni­lai buk­ti awal, dan men­dampin­gi kor­ban dalam menyusun langkah hukum yang pro­por­sion­al.