KUHP Nasional : Mengapa Indonesia Harus Meninggalkan KUHP Kolonial?

Sela­ma puluhan tahun, Indone­sia hidup den­gan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana pen­ing­galan kolo­nial Belan­da.
Banyak orang men­gi­ra ini hal yang wajar. Pada­hal, jika ditarik lebih dalam, kon­disi ini meny­im­pan per­soalan men­dasar: kita meng­gu­nakan hukum pidana yang lahir bukan dari kon­teks masyarakat Indone­sia.

Mulai 2 Jan­u­ari 2026, Indone­sia res­mi mem­ber­lakukan KUHP Nasion­al berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023.
Ini bukan sekadar per­gant­ian kitab undang-undang, melainkan peruba­han arah cara negara mene­gakkan hukum pidana.

.

Warisan Kolo­nial dan Asas Konko­r­dan­si

KUHP lama yang sela­ma ini berlaku berasal dari Wet­boek van Strafrecht buatan pemer­in­tah kolo­nial Belan­da.
Pen­er­a­pan­nya di Hin­dia Belan­da dilakukan melalui asas konko­r­dan­si.

Secara seder­hana, asas konko­r­dan­si berar­ti:

Hukum yang berlaku di negeri pen­ja­jah diber­lakukan pula di wilayah jaja­han, den­gan penye­sua­ian yang san­gat ter­batas.

Aki­bat­nya:

  • Hukum pidana diran­cang untuk men­ja­ga ketert­iban kolo­nial, bukan kead­i­lan sosial;
  • Negara ditem­patkan seba­gai pusat kepentin­gan, bukan masyarakat;
  • Pen­dekatan­nya kaku, repre­sif, dan min­im ruang kemanu­si­aan.

Sete­lah Indone­sia merde­ka, KUHP ini tetap diper­ta­hankan semen­tara wak­tu demi sta­bil­i­tas hukum.
Namun “semen­tara” itu berlang­sung lebih dari 70 tahun.

.

Ketert­ing­galan yang Jarang Dis­adari

Ada satu ironi yang jarang dibicarakan secara ter­bu­ka.

Semen­tara Indone­sia masih meng­gu­nakan KUHP kolo­nial:

  • Belan­da jus­tru telah lama mere­for­masi hukum pidananya sendiri;
  • Pen­dekatan hukum­nya bergeser dari menghukum ke mem­bi­na;
  • Pen­jara jang­ka pen­dek diku­ran­gi;
  • Pidana alter­natif dan per­lin­dun­gan kor­ban diperku­at;
  • Per­tang­gung­jawa­ban pidana kor­po­rasi dikem­bangkan secara serius.

Den­gan kata lain:

Indone­sia terus meng­gu­nakan hukum pidana ver­si lama, semen­tara negara asal­nya sudah lama mening­galkan­nya.

Ini bukan sekadar soal usia undang-undang, tetapi soal keti­dak­sesua­ian den­gan real­i­tas masyarakat mod­ern.

.

Men­ga­pa KUHP Kolo­nial Tidak Lagi Rel­e­van

Masyarakat Indone­sia hari ini:

  • Lebih kom­pleks;
  • Lebih ter­bu­ka;
  • Lebih sadar hak asasi;
  • Berhada­pan den­gan jenis keja­hatan yang jauh berbe­da diband­ing abad ke-19.

Namun KUHP kolo­nial:

  • Masih memisahkan “keja­hatan” dan “pelang­garan” secara kaku;
  • Menekankan pem­bal­asan;
  • Min­im mem­per­tim­bangkan latar belakang pelaku dan kon­disi kor­ban;
  • Kurang adap­tif ter­hadap keja­hatan kor­po­rasi dan sis­temik.

Kon­disi ini men­cip­takan jarak antara hukum dan rasa kead­i­lan masyarakat.

.

KUHP Nasion­al: Korek­si yang Dis­en­ga­ja dan Terukur

KUHP Nasion­al tidak lahir secara tiba-tiba.
Ia meru­pakan hasil reflek­si pan­jang atas:

  • Warisan kolo­nial;
  • Perkem­ban­gan masyarakat;
  • Prin­sip hak asasi manu­sia;
  • Nilai Pan­casi­la dan kon­sti­tusi.

Peruba­han ini antara lain:

  • Meng­ha­pus pem­ba­gian keja­hatan dan pelang­garan;
  • Men­gadop­si pen­dekatan yang meni­lai per­bu­atan dan pelaku;
  • Mene­gaskan tujuan pemi­danaan yang lebih manu­si­awi;
  • Menye­suaikan hukum pidana den­gan real­i­tas sosial dan ekono­mi Indone­sia.

KUHP Nasion­al bukan berar­ti hukum men­ja­di lunak, tetapi men­ja­di lebih pro­por­sion­al dan bertang­gung jawab.

.

Men­ga­pa Ini Pent­ing Dipa­ha­mi Masyarakat

Banyak perde­batan ten­tang KUHP Baru berangkat dari kekhawati­ran.
Namun kekhawati­ran ser­ing muncul kare­na tidak mema­ha­mi kon­teks sejarah­nya.

KUHP Nasion­al jus­tru bertu­juan:

  • Men­gakhiri keter­gan­tun­gan pada hukum kolo­nial;
  • Men­em­patkan hukum pidana dalam kerang­ka kead­i­lan sosial;
  • Mem­beri kepas­t­ian hukum yang lebih rel­e­van den­gan zaman.

Pema­haman yang tepat akan mence­gah salah tafsir dan peni­la­ian yang berlebi­han.

.

Penut­up

KUHP Nasion­al adalah titik balik.
Bukan kare­na isinya sem­pur­na, tetapi kare­na untuk per­ta­ma kalinya Indone­sia secara sadar menen­tukan sendiri arah hukum pidananya, lep­as dari bayang-bayang asas konko­r­dan­si kolo­nial.

Peruba­han ini menun­tut kesi­a­pan semua pihak:

  • Aparat pene­gak hukum;
  • Pelaku usa­ha;
  • Dan masyarakat pada umum­nya.

Mema­ha­mi sejak awal jauh lebih bijak dari­pa­da bereak­si saat berhada­pan den­gan perkara.

Nger­ti Hukum. Hidup Lebih Ten­ang.